“Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu sebesar satu buah kurma dari usahanya yang baik –dan Allah tidak menerima kecuali yang baik- maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah akan menumbuhkan sedekahnya itu bagi pemberinya, seperti seseorang diantara kalian menumbuhkan kuda piaraannya, hingga sebesar gunung.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Friday, November 16, 2018
Sabar di dalam Islam PDF Print E-mail

Ibnu Mas'ud R.A. berkata: Seolah-olah saya masih me lihat pada Rasulullah ketika mencontohkan kejad an seorang Nabi yang dianiya kaumnya hingga berlumuran darah, sambil mengusap darah dari mukanya berkata  ALLAHUMAGHFIR LIQOUMI FA INNAHUM LA YA'LAMUN (ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui). (H.R Bukhari, Muslim)

Sabar adalah sepenggal kata yang sering diucap dan enteng untuk dituturkan, namun dengan konsekuensi yang luar biasa berat.  Sabar lebih sebagai sebuah hasil tempaan panjang takwinniyah ketimbang sebuah bekal untuk belajar.  Dia wujud karena kematangan fikrah dan kelembutan khusyu'.  Dia adalah sebuah karakter yang diidamkan, kokoh, ibarat karang di tengah gelombang pasang.  Ibarat black hole yang menyerap semua sinar tanpa membuatnya kehilangan pegangan.  Maka Allah bersama orang-orang yang sabar.  Maka Nabi-nabi Allah selalu dengan kesabaran.  Tanpa akhlaq islami ini da'wah islamiah tak akan
tegak.

Tanpa sabar al Haq tak dapat ditegakkan.  Karena, jalan bersama al haq, jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi ni'mat, jalan para Nabi, Shiiddiqiin, syuhada dan shalihiin, jalan ketaqwaan adalah jalan yang sukar lagi mendaki, jalan yang penuh celaan dari orang-orang yang suka mencela, jalan penuh hasutan dari orang-orang yang suka menghasut, jalan yang penuh hinaan dari orang-orang yang suka menghina, jalan penuh fitnah, teror, interogasi dan intimidasi.  Tanpa sabar jalan yang mendaki menjadi lebih mendaki dan tak dapat dilalui.

Rasulullah saat di Tha'if berlumuran darah dilempari batu, begitu juga Nabi-nabi lain, karena kaumnya belum faham, tidak tahu kebenaran Allah, mereka jahil.  Kalau saja mereka tahu, mereka faham, maka mereka akan lebih banyak menangis karena kesalahan-kesalahan mereka.  Apa yang harus dilakukan untuk mereka yang tidak tahu, selain memohonkan pengampunan pada Sang Khalik ?

Memasukkan kebenaran ke dalam kepala, hati lalu mewujud dalam amaliah seseorang mad'u, bukanlah pekerjaan sederhana. Ini adalah pekerjaan para anbiya, makhluk pilihan Allah.  Coba kita bermuhasabah, baru saja perkataan kita disinggung saudara kita, ditanggapi dengan sedikit sinis atau dibiarkan, segenap ketersinggungan meluncur, meluap, lalu kita serang mereka yang bersinis-sinis kepada kita dengan kata-kata tajam-menusuk jantung.  Baru saja nasehat-nasehat kita dibalas dengan canda, dibalas dengan tawa, dibalas dengan olok-olok, segera saja segenap kebencian melanda.  Belum lagi menghadapi fikrah rekan rekan yang lain, yang tidak sama dengan kita, yang nampak kacau yang merugikkan, yang nampak munafiq, segenap kebencian penuh menghiasi layar kaca.  Setumpuk buruk sangka menghiasi muka. Lalu dimana letak sabar ?  Akankah kebenaran merasuk dalam hati rekan-rekan yang kepada mereka ingin kita sampaikan kebenaran, dengan tetap memelihara ketidaksabaran ?  Apakah kita menganggap orang lain segera akan menerima kata-kata kita, meresapinya, lalu mengamalkannya, dengan sangat mudahnya ?  Apakah kita berharap masuk surga, padahal belum datang cobaan kepada kita sebagaimana cobaan datang kepada mereka yang terdahulu ?  Astaghfirullah, kita sering bermimpi.  Kita sering bermimpi.

Inilah sabar.  Dia muncul dari proses panjang pembinaan pribadi. Dia mesti mewujud, memancarkan sinar, melembutkan hati-hati yang memandangnya.


Abu Muhammad Lexi Zulkarnaen